Maksud dan perkembangan feqah

Secara bahasa, fiqih bererti faham, dalam pengertian atau pemahaman yang mendalam yang menghendaki pengerahan potensi akal. Para ulama usul fiqh mendefinisikan fiqh sebagai mengetahui hukum-hukum Islam (syarak) yang bersifat amali (amalan) melalui dalil-dalilnya yang terperinci. Adapun para ulama fiqh mendefinisikan fiqh sebagai sekumpulan hukum amaliah (yang sifatnya akan diamalkan) yang disyariatkan dalam Islam.

Pengertian fiqh secara bahasa, yang bererti faham, antara lain dapat dilihat pada surah Hud ayat 91 yang bermaksud:
“Mereka berkata: Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu…”
dan surah al-An’am ayat 65 yang bermaksud:
“…Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami.”

Dalam pengertian istilah syar’i (yang berdasarkan syarak), kedua-dua makna di atas dikandung oleh istilah tersebut.

OBJEKTIF PERBAHASAN ILMU FIQH

Bidang perbahasan ilmu fiqh adalah setiap perbuatan Mukallaf (orang dewasa yang wajib menjalankan hukum agama), yang terhadap perbuatannya itu ditentukan hukum apa yang harus dikenakan. Contohnya, jualbeli, salat, puasa, dan pencurian yang dilakukannya. Jika jual-beli, solat, dan puasa yang dikerjakan memenuhi rukun dan syarat yang ditentukan Islam, maka pekerjaannya tersebut dikatakan sah. Sementara pencurian yang berlawanan dengan kehendak syarak dihukumkan sebagai haram dan wajib dikenakan hukuman pencurian. Dengan mengerjakan salat dan puasa bermaksud ia telah meme­nuhi kewajipan syarak. Dengan demikian, setiap perbuatan mukallaf yang merupakan objektif fiqh mempunyai nilai hukum.

Nilai dari tindakan hukum seorang mukallaf ter­sebut boleh bersifat wajib, sunah,mubah, makruh, dan haram, yang semuanya ini dinamakan hukum taklifi (bersifat perintah, anjuran, dan larangan yang wajib bagi setiap mukallaf) dan boleh juga dengan nilai sah, batal, dan fasid (rosak), yang dikenali dengan nama hukum wadh’i (khitab/perkataan Allah SWT yang mengandungi pengertian bahwa terjadinya sesuatu merupakan sebab, syarat atau penghalang bagi adanya sesuatu [hukum]).

Dari definisi juga dapat disimpulkan bahwa objektif perbahasan fiqh tersebut berkait rapat dengan hukum-hukum amaliah, tidak termasuk bidang akidah den­gan segala cabang-cabangnya karana hal tersebut termasuk bidang perbahasan ilmu lain. Fiqh yang dimaksudkan agar syarak tersebut dapat diterapkan ke­pada para mukallaf, baik terhadap perbuatan mahupun terhadap perkataan mereka. Fiqh merupakan rujukan bagi para qadi, mufti (pemberi fatwa), dan para mukallaf untuk mengetahui hukum-hukum syar’i dari perkataan dan perbuatan yang me­reka lakukan, sehingga para mukallaf mengetahui apa saja yang wajib baginya dan yang haram dikerjakannya.

PEMBAHAGIAN HUKUM FIQH

Para ulama telah membahagi hukum-hukum fiqh tersebut sebagai berikut;

(1) Hukum yang berkaitan dengan ibadah kepada Allah SWT, seperti salat, puasa dan haji; hal ini dinamakan dengan ibadah.

(2) Hukum yang ber­kaitan dengan permasalahan keluarga, seperti nikah, talak, masalah keturunan, dan nafkah; dise­but sebagai ahwal asy-syakhsiyyah.

(3) Hukum yang ber­kaitan dengan hubungan antara sesama manusia dalam rangka memenuhi keperluan masing-masing yang berkaitan dengan masalah harta dan hak-hak; disebut al-muamalah.

(4) Hukum yang berkaitan dengan perbuatan atau tindakan; disebut jinayah atau ‘uqubah.

(5) Hukum yang berkaitan dengan penyelesaian sengketa antara sesama ma­nusia, dinamakan ahkam al-qada’.

(6) Hukum yang mengatur hubungan antara penguasa dan rakyatnya; disebut al-ahkam as-sultaniyyah atau siyasah asy-syar’iyyah.

(7) Hukum yang mengatur hubung­an antaranegara dalam keadaan perang dan damai; disebut siyar atau al-huquq ad-dawliyyah.

(8) Hu­kum yang berkaitan dengan akhlak, baik dan buruk; disebut dengan adab.

Keseluruhan hukum yang disebutkan di atas tidak hanya mengandungi makna keduniaan, tetapi juga mengandungi makna keakhiratan. Hal ini bermaksud, nilai dari sesuatu hukum tidak hanya berkait dengan hukum di dunia ini, tetapi juga hukum ukhrawi, kerana Islam tidak memisahkan antara dunia dan akhirat, walaupun keduanya mampu dibezakan.

PERKEMBANGAN ILMU FIQH

Perkembangan fiqh sepanjang sejarah hukum Islam oleh Mustafa Zarqa terbahagi kepada beberapa bahagian, yaitu:

(1) Zaman risalah, yaitu semasa hidup Rasulullah SAW

(2) Zaman Khulafa’ ar-Rasyidin (empat khalifah besar/utama) sampai pertengahan abad pertama Hijriah

(3) Dari pertengahan abad pertama Hijriah sampai permulaan abad kedua Hijriah

(4) Dari awal abad kedua sam­pai pertengahan abad keempat Hijriah

(5) Dari pertengahan abad keempat sampai jatuhnya Bagh­dad pada pertengahan abad ketujuh Hijriah

(6) Dari pertengahan abad ketujuh sampai munculnya Majallah al-Ahkam al-‘Adliyyah (Kodifikasi Hu­kum Perdata Islam) di zaman Turki Usmani (Kerajaan Ottoman) pada tanggal 26 Sya’ban 1293

(7) Sejak munculnya Majallah al-Ahkam al-‘Adliyyah sampai pada zaman moden.

Zaman risalah
Zaman ini adalah semasa hidupnya Rasul­ullah SAW. Pada zaman ini fiqh masih difahami sebagai rujukan melalui Al-Qur’an dan hadith, yaitu mencakupi persoalan akidah, ibadah, muamalah, dan adab.

Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ ‘Ulum ad-Din menyatakan bahwa fiqh di zaman awal (masa Rasulullah SAW) mengandungi ilmu yang menuju jalan akhirat, berdasarkan pada su­rah at-Taubah ayat 122 yang bermaksud:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang).Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatankepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Kalimat inzar (peringatan dengan kabar yang menakutkan) menurut Imam al-Gazali hanya berkait dengan permasalahan akhirat, bukan permasalahan dunia. Kemudian ia juga mendasarkan pendapatnya dengan surah al-A’raf ayat 179 yang bermaksud:

“…Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami…”

Hati tidak dipergunakan memahami makna-makna Iman kepada Allah SWT dan segala yang berkaitan dengan sifat-sifat-Nya. Dengan demikian Imam al-Ghazali melihat bahawa permasalahan utama dari fiqh tersebut adalah yang berkaitan dengan pengetahuan tentang akhirat, sedangkan fiqh yang berkaitan de­ngan masalah muamalah hanyalah masalah yang kedua atau tambahan.

Dari gambaran di atas jelas menunjukkan bahwa fiqh di zaman Rasulullah SAW belum terbahagi dalam bidang-bidang tertentu, tetapi fiqh mencakupi segala yang terkandung dalam Al-Qur’an dan hadith. Terciptanya hukum dalam berbagai masalah di waktu itu didapati melalui pertanyaan para sahabat tentang sesuatu peristiwa, yang jawapannya didapati melalui wahyu Allah SWT atau melalui sunah Rasulullah SAW. Dalam kesempatan lain, Allah SWT juga menurunkan wahyu-Nya dalam rangka memberikan tuntunan bagi keadaan masyarakat saat itu, atau juga berupa teguran, perintah, dan sebagainya. Daripada peristiwa-peristiwa inilah,munculnya hukum-hukum yang terperinci daripada peristiwa yang ada. Dengan demikian, rujukan untuk menentukan hukum di waktu itu hanyalah Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW.

Zaman Khulafa’ ar-Rasyidin
Peristiwa yang terjadi semakin banyak, sementara Rasulullah SAW yang selama ini menjadi sumber rujukan hukum mereka tidak ada lagi. Malahan, masyarakat sudah bertambah dengan adanya penaklukan-penaklukan Islam ke luar Semenanjung Arab, sehingga muncul di tengah-tengah umat Islam hukum dan kebudayaan baru yang kesemuanya ini mendorong para sahabat untuk melakukan ijtihad.

Setiap permasalahan yang muncul, pertama kali mereka berusaha untuk menemukan jawapannya di dalam Al-Qur’an. Jika mereka tidak mendapati dalam Al-Qur’an, mereka meneliti hadith-hadith Nabi SAW. Apabila dalam hadith Nabi SAW juga tidak ada jawapannya, maka mereka melaku­kan ijtihad dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip pokok yang ditinggalkan Rasulullah SAW. Dengan demikian muncullah hasil ijtihad para sahabat dalam pelbagai permasalahan umat. Dalam pada itu, perlu dicatat bahawa pada masa inilah dimulainya penggunaan akal (ar-ra’yu) dan qias dalam mencari jawapan hukum terhadap peristiwa yang terjadi. Beberapa ijtihad telah dilakukan oleh Umar bin Khattab, khalifah yang sangat mengagumkan dalam menjawab permasalahan umat dan berorientasikan kemaslahatan umat itu sendiri.

Zaman Pertengahan Abad Pertama sampai Awal Abad Kedua Hijriah
Pada masa Usman bin Affan menjawat jawatan sebagai khalifah, para sahabat mulai berpecah ke berbagai-bagai daerah. Dengan berpecahnya sahabat ini di setiap berlainan daerah, yang sistem sosial masyarakatnya berbeza pula, maka se­makin banyak hasil ijtihad yang muncul sesuai de­ngan kehendak masyarakat setempat. Di Iraq, Ibnu Mas’ud berperanan sebagai sahabat yang menjawab berbagai-bagai masalah yang dihadapinya di sana, sementara sistem masyarakat Iraq berbeza dengan yang ada di Madinah dan Mekah. Di samping itu di Iraq telah terjadi percampurbauran etnik antara Arab dan Parsi(Iran). Dalam berijtihad, Ibnu Mas’ud mengikuti qaidah-qaidah yang telah dilakukan Umar bin Kattab, yang dikenali lebih berorientasikan kepada kepentingan umat dan kemaslahatan mereka, tanpa terlalu terikat dengan teks-teks (makna harfiah) Al-Qur’an dan sunah. Dengan demikian penggunaan sebegini sangat dominan dalam berijtihad. Dari sinilah, munculnya madrasah atau aliran Ahlur – Ra’yi di Iraq.

Sementara itu, di Madinah, fiqh dikembangkan oleh Zaid bin thabit dan Abdullah bin Umar bin Khattab, serta di Mekah oleh Ibnu Abbas dan para sahabatnya. Fuqaha kedua kota ini mempunyai qaidah yang sama dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, yaitu berusaha untuk menentukan hukum tersebut melalui Al-Qur’an dan sunah. Mereka senantiasa mencari hadith dan berpegang kuat pada hadis dalam menetapkan hukum. Hal ini memungkinkan untuk kedua kota tersebut kerana memang di kedua kota ini hadith-hadith banyak tersebar, di samping masyarakatnya homogen, sehingga penangan permasalahan yang timbul tidak sekompleks permasalahan yang dihadapi Ibnu Mas’ud di Iraq.

Murid-murid Ibnu Mas’ud, Zaid bin thabit, Ibnu Umar, dan Ibnu Abbas juga bertebaran di kota-kota lain, misalnya Sa’id bin Musayyab di Madinah, Ata bin Abi Rabah di Mekah, Ibrahim an-Nakha’i di Kufah, Hasan Basri di Basra, Makhul di Syam (Syria), dan Tawus di Yaman. Murid-murid para sahabat ini (yang dikenali sebagai tabiin) juga mengembangkan fiqh baru sesuai dengan permasalahan yang me­reka hadapi di kota tempat mereka tinggal yang satu sama lain juga berbeza.

Dari gambaran di atas jelas bahwa fiqh semakin berkembang sesuai dengan keadaan masyarakat yang dihadapi. Penggunaan ar-ra’yu (akal) pada masa ini dalam berijtihad, seperti cara qias, istihsan, dan istislah (membetulkan), semakin luas terbentuknya mazhab-mazhab fiqh. Mazhab fiqh yang terbentuk ini mengikuti nama-nama para tabiin yang menjadi pemegang fatwa hukum di negeri tersebut. Misalnya, dalam sejarah perkembangan fiqh dikenal dengan adanya istilah fiqh Auza’ie dan fiqhh Ibrahim an-Nakha’i. Di samping itu, fiqh juga merupakan salah satu cabang ilmu yang mendapat perhatian para ulama di waktu itu, yang menjadi dasar kesempurnaan ilmu fiqh di zaman sesudahnya, yaitu di tangan imam mazhab yang empat (Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hanafi, dan Imam Hanbali).

Zaman Awal Abad Kedua sampai Pertengahan Abad Keempat Hijriah
Pada masa ini fiqh berkembang dengan pesat setelah sebelum ini diletakkan dasar-dasar oleh para Tabiin. Zaman ini dimulaii dengan munculnya imam-imam mazhab yang terdiri daripada Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki, Mazhab Syafi’i, dan Mazhab Hanbali.

Pada awal zaman ini terjadi perdebatan sengit antara Ahlulhadis dan Ahlur Ra’yi. Pada akhirnya perdebatan ini dapat diredakan tatkala ahlur-ra’yi dapat dianggap sebagai salah satu cara dalam mengistinbatkan hukum fiqh melalui batasan-batasan dan qaidah-qaidah yang ditentukan oleh Ahlur Ra’yi, sehingga dengan qaidah-qaidah yang mereka buat tersebut mereka terhindar daripada segala tuduhan penetapan hukum dengan hawa nafsu.

Imam Abu Zahrah (ahli usul, fiqh, dan kalam) mengemukakan bahawa pendebatan ini tidak berlangsung lama kerana murid-murid imam mazhab melakukan interaksi dengan mazhab lain, se­perti yang dilakukan oleh Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani, sahabat Imam Hanafi, yang sengaja datang ke Hijjaz untuk mempelajari kitab al-Muwatta’ karangan Imam Malik; Imam Syafi’i menemui Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani ke Iraq untuk mengetahui secara jelas fiqh ahli Iraq; dan Imam Abu Yusuf, sahabat Imam Hanafi, berusaha untuk mencari hadith-hadith yang mendokong pendapat Ahlur Ra’yi. Oleh sebab itu terlihat banyak kitab-kitab fiqh dari kedua kelompok ini yang dipenuhi oleh hadith dan ar-ra’yu.

Pada awal zaman ini juga dilakukan pembukuan kitab-kitab fiqh yang dilakukan pada setiap mazhab, di antaranya kitab al-Muwatta’ oleh Imam Malik, kitab al-Umm oleh Imam Syafi’i, dan kitab fiqh yang disusun oleh Muhammad bin Hasan asy-Syaibani (murid Imam Hanafi). Demikian juga halnya dengan ilmu usul fiqh; yang paling awal adalah buku ar-Risalah karangan Imam Syafi’i.

Perkembangan-perkembangan yang ada ini juga membawa impak yang lebih luas. Fiqh tidak saja diistinbatkan dan disusun sesuai dengan kehendak praktikal masyarakat dan sesuai dengan kehendak perkembangan zaman, tetapi juga muncul hukum fiqh yang membahas tentang pelbagai kemungkinan dalam masalah-masalah fiqh yang belum terjadi.